Senin, 14 Juni 2010

Cara Menerapkan Modalitas Dalam Kelas

Anda mungkin membayangkan ketika sebagai guru terutama kemungkinan untuk menerapkan modalitas belajar dalam kelas. Bagaimna menerapkan modalitas belajar sementar sudah jelas bahwa didalam kelas ada sekitar 20 atau 30 siswa dengan modalitas berbeda. Bagaimana menerapkan modalitas belajar ini.

Uraian ini akan menjawab apa yang menjadi pertanyaan Anda.



Saya membaca buku karya Cynthia Ulrich Tobias ini pada tahun 1997 ketika saya ingin membuat buku pertama saya, Mengikat Makna (terbit pada 2001). Waktu itu saya diberitahu oleh Cynthia bahwa ada tiga cara yang dimiliki setiap orang dalam menyerap informasi. Ketiga cara itu adalah, pertama, melalui gambar (Visual), lalu yang kedua melalui suara (Audio), dan yang ketiga melalui gerakan atau tubuh (Kinestetik). Inilah yang kemudian disingkat VAK atau disebut "modalitas".

Modalitas belajar (learning modalities) adalah cara-cara terbaik yang ditempuh oleh seseorang ketika dia sedang belajar. Saya baru memahami benar soal ini ketika sempat ngobrol-ngobrol dengan mas Munif Chatib, penulis buku Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia, pada sekitar pertengahan tahun 2008 di Bandung. Waktu itu mas Munif sedang mengumpulkan materi untuk bukunya itu. Sebelumnya, mas Munif sempat belajar dengan Bobbi DePorter, penggagas Quantum Learning, lewat Internet.

Salah satu yang diceritakan mas Munif kepada saya adalah ihwal modalitas. Kata mas Munif, modalitas bagaikan tiga jenis pipa yang dimiliki oleh anak didik. Masing-masing pipa itu memiliki lingkaran yang berbeda. Sekarang, coba bayangkan ada seorang guru yang mau memberikan sebuah mata pelajaran kepadanya. Mata pelajaran itu ibaratkanlah sebutir kelereng yang akan dialirkan kepada anak didik lewat salah satu pipa yang dimiliki oleh anak didik tersebut.



Di antara ketiga pipa tersebut—sebutlah itu pipa V, A, dan K—mana yang akan dipilih oleh sang guru? Tentu yang lingkarannya paling besar karena akan membuat kelereng itu cepat sekali mengalir ke dalam diri si anak didik. Persoalannya, bagaimana menemukan pipa yang berlingkaran paling besar sehingga kelereng itu dapat mengalir dengan sangat cepat? Ada tiga cara: Pertama, seorang guru dapat menyiapkan strategi pengajarannya dengan menggunakan ketiga pipa tersebut. Kedua, sang guru dapat bertanya secara khusus tentang VAK kepada anak didik dan mengecek mana pipa yang disenangi dan sering digunakannya. Ketiga, lewat tes-tes yang disiapkan oleh seorang ahli terkait dengan modalitas belajar.

Ketika seorang guru memanfaatkan tes VAK, selayaknyalah dia memerhatikan secara saksama pesan dari Cynthia berikut ini, "Walaupun Anda mendapatkan ada seorang anak yang memiliki jumlah paling tiggi di satu kolom, ingatlah bahwa tidak ada cara yang murni. Kita semua adalah campuran dari banyak karakteristik cara." Manusia itu unik. Berdasarkan ini, gunakan juga pengetesan yang kedua. Jika anak memang merasa senang dan nyaman dengan sebuah cara, fokuslah ke sana.



Akan sangat bagus untuk sang guru apabila dia berusaha untuk melengkapi setrategi pengajarannya dengan menggunakan ketiga cara VAK. Sebab, si guru sendiri tentu memiliki kecenderungan tertentu dalam mengajar dengan menggunakan apakah itu cara V, A, atau K. Dengan mempersiapkan pengajarannya lewat ketiga cara tersebut, selain akan membantu diri sang guru untuk TIDAK memaksakan sebuah cara yang disukainya, sang guru pun akan tertolong dalam membangun kreativitas mengajarnya. Dia dapat mengombinasikan tiga cara V, A, K tersebut dengan berganti-ganti setiap kali mengajar.

Pertanyaan yang memang tidak gampang dijawab, terkait dengan modalitas belajar ini, adalah bagaimana dengan sebuah kelas yang diisi oleh 20, 30, hingga 40 murid? Setiap murid kan punya cara belajar yang unik dan tidak sama semua? Apakah pengajarannya perlu satu per satu? Jawabannya adalah, sekali lagi, ciptakan kesenangan dan gunakan ketiga cara VAK itu secara serempak dan berganti-ganti. Sudahkah Anda—para guru—mencoba secara kontinu dan konsisten melakukan pengajaran dengan memanfaatkan "pipa-pipa" VAK? (Penulis : Hernowo Hasim Sumber : ceremende.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar